Dunia dewasa ini dan untuk seterusnya sudah membentuk dirinya menjadi bidang horisontal dimana kita bisa terhubung satu sama lain secara real time. Harus disadari bahwa tulisan kita bukan hanya berada pada ruang lingkup atmosfir semesta raya. Tapi juga menggema keseluruh alam jagat raya, menembus langit ketujuh. Para malaikat, iblis dan Tuhan menyimak apa yang kita tulis. Tulisan adalah cahaya yang mampu menembus ruang dan waktu. Artinya tulisan mempunyai kecepatan cahaya, 298×106 meter/detik.
Bagi sebagian orang, menulis adalah jalan hidup. Bagiku, menulis adalah mahakarya.
Ya, saya selalu mencoba mencari kebanggaan tersendiri ketika menulis. Menulis adalah ritual suci. Sakral. Mengapa demikian? Bagi saya, menulis bukan sekedar menulis. Menulis bukan sekedar kata kerja dan tulisan bukan sekedar kata benda. Karena tulisan adalah sebuah identitas. Karena tulisan adalah karakter seseorang. Karena tulisan adalah pribadi seseorang. Tidak hanya berhenti sampai di sini, tulisan juga merupakan sebuah sikap hidup. Dan oleh sebagian orang, tulisan bahkan dipandang sebagai Harga Diri. Karena itulah barangkali, maka plagiat adalah dosa besar dan kejahatan kemanusian.
Tulisan dengan kecepatan cahayanya mampu melintasi lautan dan benua serta meruntuhkan batas-batas teritorial negara. Di sini kita bertemu tulisan dalam bentuk perlawanan yang bermuara pada pandangan hidup dan termanifestasi menjadi bentuk ideologi. Dalam hal ini, tulisan adalah CETAK BIRU. Kita ingat Hitler dengan bukunya yang terkenal Mein Kampf dan tafsir Kitab Suci versi Sayyid Qutb bernama “Di dalam Naungan Al-Qur’an” yang fenomenal dan menjadi garis perjuangan gerakan radikal keagamaan di Mesir. Kedua tokoh dunia ini harus dipandang penting karena dampak dari pengaruh bukunya mampu memicu peperangan global yang traumatisnya masih bisa dirasakan hingga akhir zaman nanti. Pada akhirnya menulis adalah bentuk eksistensi, pengungkapan ada-diri manusia.
Dalam skala yang lebih mikro dan personal, menulis dalam sirkumstansi tertentu adalah suatu proses kerja, dan dalam level tertentu setara dengan seorang arsitek yang sedang mendesain bangunan, menjadikannya indah dan sempurna. Menulis juga ibarat sedang membuat kapal atau membangun jembatan. Sehingga menulis dengan demikian juga merupakan proses berbudaya. Proses untuk menjadi benar dan indah.
Pulchrum splendor est veritatis-Keindahan adalah pancaran kebenaran.
Tulisan adalah avant garde pemikiran, ide-ide, warna-warni pelangi, pengungkapan akan perasaan, perubahan perspektif dan nilai-nilai esoteris. Satu lagi, menulis adalah juga merupakan ruang hidup, ruang untuk tumbuh dan berkembang. Semoga.
Meddy Danial