TIDAK ada salahnya menuliskan apa yang sudah terjadi dalam hidup kita. Karena kita tidak pernah tahu umur kita. Tentu saja dengan mengedepankan sikap bahwa di atas langit masih ada langit. Tidak ada manusia yang sempurna. Selalu ada yang terbaik. Dan saya pun hingga detik ini tetap merasa menjadi manusia yang tidak luar biasa. Cenderung biasa malah. Pupuk bawang menurut istilah orang-orang.
Dari SD hingga SMA hampir tidak ada yang luar biasa, kecuali pernah diajak oleh perempuan-perempuan cantik untuk menyanyi kelompok paduan suara, lomba antar kelas waktu kelas 1 SMA. Lagu yang dinyanyikan Manuk Dadali, dan saya sungguh kerepotan menghafalkan lirik lagu sambil menari dan bergaya. Tapi apa mau dikata, karena yang mengajak gadis-gadis cantik, kapan lagi. Hehehe. Ironisnya, saya baru hapal dan menikmati menyanyikan lagu itu setelah selesai lomba.
Pada saat SD, hanya main-main saja. Yang berkesan adalah ketika main sepatu roda sambil main sepakbola yang terbuat dari plastik yang diunthel-unthel dan digabung dengan kertas koran bekas. Seru!.
SMA juga adalah ajang pembajaan diri. Salah satunya ikut beladiri Merpati Putih. Namun hanya sampai tingkat 4 atau balik dua. Yah, setidaknya minimal sudah bisa memecahkan dua lapis beton cor dengan sisi telapak tangan kiri.
Dari SMA pula aku mulai belajar naik gunung. Tanpa ijin orang tua. Karena beliau berdua pasti tidak akan mengijinkan aku. Dan aku nekat tetap naik gunung hingga ke puncak gunung pada subuh dini hari.
Singkat cerita, pada tahun 1998, di saat krisis politik tanah air, kesempatan bekerja di jasa konstruksi terpaksa tidak bisa dilakukan, karena semua kontraktor dan konsultan proyek tiarap alias bangkrut. Itulah sebabnya aku memutuskan menjadi dosen. Sesuatu pekerjaan yang sesungguhnya kurang heroik. Untunglah stereotype itu hilang ketika aku mulai diajak oleh dosen untuk terlibat dalam proyek perlindungan Tanah Lot Bali dari ancaman abrasi. Sejak itulah aku paham bahwa heroik itu tidak harus menghasilkan karya berupa pencakar langit atau jembatan yang membentang panjang. Tapi heroik itu adalah bermanfaat kepada sesama. Bermanfaat kepada humanisme tanpa perlu gebyar sorot kamera. Heroik itu ada di dalam hati, membantu sesama dengan kebenaran ilmiah. Tanpa sorot kamera dan wartawan.
Sejak itulah aku mencintai dunia pendidikan. Mencintai penelitian, meski tidak hiruk pikuk, tapi spiritnya dan nilai yang diperjuangkan lebih besar ketimbang membangun pencakar langit. Kebenaran. Ya, ilmu itu harus disampaikan dengan benar dan harus diterapkan dengan benar. Dan hasilnya, secara materi, meskipun tidak segebyar pencakar langit, namun rasanya seperti ada angin ribut yang berputar di sekeliling tubuhku. Seru!
Menjadi Dosen, kemudian konsekuensinya selain mengajar adalah meneliti. Alhamdulillah setiap tahun selalu ada penelitian yang harus dipresentasikan. Dana penelitian dan hibah riset bagi dosen adalah salah satu kegiatan bergengsi selain menjadi konsultan di luar.
Diluar itu, Dosen adalah harus berguna bagi masyarakat di luar kampus. Karena itulah, dengan memberanikan diri aku juga terlibat dalam berbagai proyek, terutama untuk konsultan. Beberapa proyek yang ditangani kebetulan adalah proyek yang strategis yaitu PLTU. Bekerja sama dengan konsultan Jakarta dan kontraktor dari beberapa negara tentu saja menjadi pengalaman yang berharga.
Yang paling berkesan tentu saja ketika melakukan studi rencana PLTU di Pangkalpinang. Suatu moment yang tidak terlupakan. Karena ini pertama kalinya sebuah pekerjaan profesional dikerjakan oleh akademisi dan tenaga ahli dari institusi di Kalimantan Barat dan ownernya adalah holding company dari Jakarta dan kontraktor dari Cina.
Berikutnya adalah pengalaman dengan holding company dari negara tetangga untuk perkebunan. Tentu saja ini adalah tantangan yang sangat menarik dan menggairahkan. Mengapa demikian, karena disiplin ilmunya berbeda sehingga memiliki bobot prestisius yang tinggi. kolaborasi antara ilmu kehutanan, perkebunan, dan teknik sipil. Keren sekali!!!
Ini juga menjadi surprise bagi saya karena menjadi proyek multitasking pertama diluar bidang keilmuan saya.
Dan mulitasking itu terus berlanjut dengan proyek di bidang perikanan dan kelautan dan pertanian serta kehutanan.
Pernah juga menjadi tim ahli kejaksaan mewakili Fakultas Teknik untuk suatu kasus tertentu. Begitulah. semuanya bergulir hingga sadar bahwa masih banyak impian yang belum terwujud. Dan itu masih harus dikejar. Sekian.
Terima kasih. Meddy Danial




test
Boleh sering-sering menengok kemari khan
Boleh, dong. semuanya boleh main-main dan hujan-hujanan di sini. Semua bebas berekspresi. Makasih mba Deasy.